Saat itu penghujung desember 2008, saat aku duduk menatap televisi bersama anak lelaki ku yang berusia 51/2 th, aku terhenyak melihat gaza digempur habis-habisan oleh israel dari segala penjuru, kemudian televisi menampilkan wajah-wajah bocah Palestina yang berlumuran darah.
Saat itu aku geram, geram dengan gigi geraham bergeletak, sembari melihat ke arah anakku dan membayangkan kalau korban itu adalah dirinya, aku menangis, aku marah, tetapi tak bisa melakukan apa-apa.
Sang anak bertanya kepada ku, “Abi, mengapa anak-anak Palestina itu dibunuh, mengapa ada orang jahat yang bisa berbuat seperti itu?. Israel itu kok jahat ya bi...”.
“Nak, Allah sedang sayang kepada bocah-bocah itu, mereka sedang berlomba menuju surga.” Jawabku diplomatis tak tahu harus berkata apa. Bagaimana menjelaskan kondisi ini kepada anakku, selain menceritakan tentang sejarah Israel yang berlumuran darah. Aku bukan tipe manusia penghasut, aku biarkan anak-anak ku menilai sendiri tentang manusia-manusia yang baik dan jahat tanpa tendensi apa-apa. Biar mereka mengetahui sendiri dari buku dan televisi tentang sejarah manusia-manusia durjana Israel.
Hari berikutnya, anakku senang sekali menggambar peristiwa perang gaza, Ia membuat jagoan sendiri dengan latar belakang bendera Palestina disatu sisi, dan disisi lain tank-tank israel sedang hancur lebur. Bahkan ketika bermain game beachead, Ia memposisikan sebagai mujahid Palestina, sedangkan musuh-musuh, tank, pesawat dan helikopter yang datang sebagai tentara israel. Begitu bangganya ia. Aku hanya bisa berdoa, semoga Allah selalu memberikan dirinya pemahaman yang benar, pemahaman yang membawanya selamat dunia dan akhirat, baik tentang ilmu dunia, maupun ilmu akhirat.
Robbana hablana min azwazina wadzurriatina qurrota a’yun, Waj’alna lilmuttaqiina Immaman.
Wednesday, January 28, 2009
Tuesday, January 27, 2009
Kisah Islamnya Bocah Amerika (dari Sabili)
Kisah Islamnya Bocah Amerika
Rasulullah saw bersabda: ”Setiap bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari)
Kisah bocah Amerika ini tidak lain adalah sebuah bukti yang membenarkan hadits tersebut di atas.
Alexander Pertz dilahirkan dari kedua orang tua Nasrani pada tahun 1990 M. Sejak awal ibunya telah memutuskan untuk membiarkannya memilih agamanya jauh dari pengaruh keluarga atau masyarakat. Begitu dia bisa membaca dan menulis maka ibunya menghadirkan untuknya buku-buku agama dari seluruh agama, baik agama langit atau agama bumi. Setelah membaca dengan mendalam, Alexander memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Padahal ia tak pernah bertemu muslim seorangpun.
Dia sangat cinta dengan agama ini sampai pada tingkatan dia mempelajari sholat, dan mengerti banyak hukum-hukum syar’i, membaca sejarah Islam, mempelajari banyak kalimat bahasa Arab, menghafal sebagian surat, dan belajar adzan.
Semua itu tanpa bertemu dengan seorang muslimpun. Berdasarkan bacaan-bacaan tersebut dia memutuskan untuk mengganti namanya yaitu Muhammad ’Abdullah, dengan tujuan agar mendapatkan keberkahan Rasulullah saw yang dia cintai sejak masih kecil.
Salah seorang wartawan muslim menemuinya dan bertanya pada bocah tersebut. Namun, sebelum wartawan tersebut bertanya kepadanya, bocah tersebut bertanya kepada wartawan itu, ”Apakah engkau seorang yang hafal Al Quran ?”
Wartawan itu berkata: ”Tidak”. Namun sang wartawan dapat merasakan kekecewaan anak itu atas jawabannya.
Bocah itu kembali berkata , ”Akan tetapi engkau adalah seorang muslim, dan mengerti bahasa Arab, bukankah demikian ?”. Dia menghujani wartawan itu dengan banyak pertanyaan. ”Apakah engkau telah menunaikan ibadah haji ? Apakah engkau telah menunaikan ’umrah ? Bagaimana engkau bisa mendapatkan pakaian ihram ? Apakah pakaian ihram tersebut mahal ? Apakah mungkin aku membelinya di sini, ataukah mereka hanya menjualnya di Arab Saudi saja ? Kesulitan apa sajakah yang engkau alami, dengan keberadaanmu sebagai seorang muslim di komunitas yang bukan Islami ?”
Setelah wartawan itu menjawab sebisanya, anak itu kembali berbicara dan menceritakan tentang beberapa hal berkenaan dengan kawan-kawannya, atau gurunya, sesuatu yang berkenaan dengan makan atau minumnya, peci putih yang dikenakannya, ghutrah (surban) yang dia lingkarkan di kepalanya dengan model Yaman, atau berdirinya di kebun umum untuk mengumandangkan adzan sebelum dia sholat. Kemudian ia berkata dengan penuh penyesalan, ”Terkadang aku kehilangan sebagian sholat karena ketidaktahuanku tentang waktu-waktu sholat.”
Kemudian wartawan itu bertanya pada sang bocah, ”Apa yang membuatmu tertarik pada Islam ? Mengapa engkau memilih Islam, tidak yang lain saja ?” Dia diam sesaat kemudian menjawab.
Bocah itu diam sesaat dan kemudian menjawab, ”Aku tidak tahu, segala yang aku ketahui adalah dari yang aku baca tentangnya, dan setiap kali aku menambah bacaanku, maka semakin banyak kecintaanku”.
Wartawab bertanya kembali, ”Apakah engkau telah puasa Ramadhan ?”
Muhammad tersenyum sambil menjawab, ”Ya, aku telah puasa Ramadhan yang lalu secara sempurna. Alhamdulillah, dan itu adalah pertama kalinya aku berpuasa di dalamnya. Dulunya sulit, terlebih pada hari-hari pertama”. Kemudian dia meneruskan : ”Ayahku telah menakutiku bahwa aku tidak akan mampu berpuasa, akan tetapi aku berpuasa dan tidak mempercayai hal tersebut”.
”Apakah cita-citamu ?” tanya wartawan
Dengan cepat Muhammad menjawab, ”Aku memiliki banyak cita-cita. Aku berkeinginan untuk pergi ke Makkah dan mencium Hajar Aswad”.
”Sungguh aku perhatikan bahwa keinginanmu untuk menunaikan ibadah haji adalah sangat besar. Adakah penyebab hal tersebut ?” tanya wartawan lagi.
Ibu Muhamad untuk pertama kalinya ikut angkat bicara, dia berkata : ”Sesungguhnya gambar Ka’bah telah memenuhi kamarnya, sebagian manusia menyangka bahwa apa yang dia lewati pada saat sekarang hanyalah semacam khayalan, semacam angan yang akan berhenti pada suatu hari. Akan tetapi mereka tidak mengetahui bahwa dia tidak hanya sekedar serius, melainkan mengimaninya dengan sangat dalam sampai pada tingkatan yang tidak bisa dirasakan oleh orang lain”.
Tampaklah senyuman di wajah Muhammad ’Abdullah, dia melihat ibunya membelanya. Kemudian dia memberikan keterangan kepada ibunya tentang thawaf di sekitar Ka’bah, dan bagaimanakah haji sebagai sebuah lambang persamaan antar sesama manusia sebagaimana Tuhan telah menciptakan mereka tanpa memandang perbedaan warna kulit, bangsa, kaya, atau miskin.
Kemudian Muhammad meneruskan, ”Sesungguhnya aku berusaha mengumpulkan sisa dari uang sakuku setiap minggunya agar aku bisa pergi ke Makkah Al-Mukarramah pada suatu hari. Aku telah mendengar bahwa perjalanan ke sana membutuhkan biaya 4 ribu dollar, dan sekarang aku mempunyai 300 dollar."
Ibunya menimpalinya seraya berkata untuk berusaha menghilangkan kesan keteledorannya, ”Aku sama sekali tidak keberatan dan menghalanginya pergi ke Makkah, akan tetapi kami tidak memiliki cukup uang untuk mengirimnya dalam waktu dekat ini."
”Apakah cita-citamu yang lain ?” tanya wartawan.
“Aku bercita-cita agar Palestina kembali ke tangan kaum muslimin. Ini adalah bumi mereka yang dicuri oleh orang-orang Israel (Yahudi) dari mereka.” jawab Muhammad
Ibunya melihat kepadanya dengan penuh keheranan. Maka diapun memberikan isyarat bahwa sebelumnya telah terjadi perdebatan antara dia dengan ibunya sekitar tema ini.
Muhammad berkata, ”Ibu, engkau belum membaca sejarah, bacalah sejarah, sungguh benar-benar telah terjadi perampasan terhadap Palestina."
”Apakah engkau mempunyai cita-cita lain ?” tanya wartawan lagi.
Muhammad menjawab, “Cita-citaku adalah aku ingin belajar bahasa Arab, dan menghafal Al Quran.”
“Apakah engkau berkeinginan belajar di negeri Islam ?” tanya wartawan
Maka dia menjawab dengan meyakinkan : “Tentu"
”Apakah engkau mendapati kesulitan dalam masalah makanan ? Bagaimana engkau menghindari daging babi ?”
Muhammad menjawab, ”Babi adalah hewan yang sangat kotor dan menjijikkan. Aku sangat heran, bagaimanakah mereka memakan dagingnya. Keluargaku mengetahui bahwa aku tidak memakan daging babi, oleh karena itu mereka tidak menghidangkannya untukku. Dan jika kami pergi ke restoran, maka aku kabarkan kepada mereka bahwa aku tidak memakan daging babi."
”Apakah engkau sholat di sekolahan ?”
”Ya, aku telah membuat sebuah tempat rahasia di perpustakaan yang aku shalat di sana setiap hari” jawab Muhammad
Kemudian datanglah waktu shalat maghrib di tengah wawancara. Bocah itu langsung berkata kepada wartawan,”Apakah engkau mengijinkanku untuk mengumandangkan adzan ?”
Kemudian dia berdiri dan mengumandangkan adzan. Dan tanpa terasa, air mata mengalir di kedua mata sang wartawan ketika melihat dan mendengarkan bocah itu menyuarakan adzan.(Syhdt/sbl)
Rasulullah saw bersabda: ”Setiap bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari)
Kisah bocah Amerika ini tidak lain adalah sebuah bukti yang membenarkan hadits tersebut di atas.
Alexander Pertz dilahirkan dari kedua orang tua Nasrani pada tahun 1990 M. Sejak awal ibunya telah memutuskan untuk membiarkannya memilih agamanya jauh dari pengaruh keluarga atau masyarakat. Begitu dia bisa membaca dan menulis maka ibunya menghadirkan untuknya buku-buku agama dari seluruh agama, baik agama langit atau agama bumi. Setelah membaca dengan mendalam, Alexander memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Padahal ia tak pernah bertemu muslim seorangpun.
Dia sangat cinta dengan agama ini sampai pada tingkatan dia mempelajari sholat, dan mengerti banyak hukum-hukum syar’i, membaca sejarah Islam, mempelajari banyak kalimat bahasa Arab, menghafal sebagian surat, dan belajar adzan.
Semua itu tanpa bertemu dengan seorang muslimpun. Berdasarkan bacaan-bacaan tersebut dia memutuskan untuk mengganti namanya yaitu Muhammad ’Abdullah, dengan tujuan agar mendapatkan keberkahan Rasulullah saw yang dia cintai sejak masih kecil.
Salah seorang wartawan muslim menemuinya dan bertanya pada bocah tersebut. Namun, sebelum wartawan tersebut bertanya kepadanya, bocah tersebut bertanya kepada wartawan itu, ”Apakah engkau seorang yang hafal Al Quran ?”
Wartawan itu berkata: ”Tidak”. Namun sang wartawan dapat merasakan kekecewaan anak itu atas jawabannya.
Bocah itu kembali berkata , ”Akan tetapi engkau adalah seorang muslim, dan mengerti bahasa Arab, bukankah demikian ?”. Dia menghujani wartawan itu dengan banyak pertanyaan. ”Apakah engkau telah menunaikan ibadah haji ? Apakah engkau telah menunaikan ’umrah ? Bagaimana engkau bisa mendapatkan pakaian ihram ? Apakah pakaian ihram tersebut mahal ? Apakah mungkin aku membelinya di sini, ataukah mereka hanya menjualnya di Arab Saudi saja ? Kesulitan apa sajakah yang engkau alami, dengan keberadaanmu sebagai seorang muslim di komunitas yang bukan Islami ?”
Setelah wartawan itu menjawab sebisanya, anak itu kembali berbicara dan menceritakan tentang beberapa hal berkenaan dengan kawan-kawannya, atau gurunya, sesuatu yang berkenaan dengan makan atau minumnya, peci putih yang dikenakannya, ghutrah (surban) yang dia lingkarkan di kepalanya dengan model Yaman, atau berdirinya di kebun umum untuk mengumandangkan adzan sebelum dia sholat. Kemudian ia berkata dengan penuh penyesalan, ”Terkadang aku kehilangan sebagian sholat karena ketidaktahuanku tentang waktu-waktu sholat.”
Kemudian wartawan itu bertanya pada sang bocah, ”Apa yang membuatmu tertarik pada Islam ? Mengapa engkau memilih Islam, tidak yang lain saja ?” Dia diam sesaat kemudian menjawab.
Bocah itu diam sesaat dan kemudian menjawab, ”Aku tidak tahu, segala yang aku ketahui adalah dari yang aku baca tentangnya, dan setiap kali aku menambah bacaanku, maka semakin banyak kecintaanku”.
Wartawab bertanya kembali, ”Apakah engkau telah puasa Ramadhan ?”
Muhammad tersenyum sambil menjawab, ”Ya, aku telah puasa Ramadhan yang lalu secara sempurna. Alhamdulillah, dan itu adalah pertama kalinya aku berpuasa di dalamnya. Dulunya sulit, terlebih pada hari-hari pertama”. Kemudian dia meneruskan : ”Ayahku telah menakutiku bahwa aku tidak akan mampu berpuasa, akan tetapi aku berpuasa dan tidak mempercayai hal tersebut”.
”Apakah cita-citamu ?” tanya wartawan
Dengan cepat Muhammad menjawab, ”Aku memiliki banyak cita-cita. Aku berkeinginan untuk pergi ke Makkah dan mencium Hajar Aswad”.
”Sungguh aku perhatikan bahwa keinginanmu untuk menunaikan ibadah haji adalah sangat besar. Adakah penyebab hal tersebut ?” tanya wartawan lagi.
Ibu Muhamad untuk pertama kalinya ikut angkat bicara, dia berkata : ”Sesungguhnya gambar Ka’bah telah memenuhi kamarnya, sebagian manusia menyangka bahwa apa yang dia lewati pada saat sekarang hanyalah semacam khayalan, semacam angan yang akan berhenti pada suatu hari. Akan tetapi mereka tidak mengetahui bahwa dia tidak hanya sekedar serius, melainkan mengimaninya dengan sangat dalam sampai pada tingkatan yang tidak bisa dirasakan oleh orang lain”.
Tampaklah senyuman di wajah Muhammad ’Abdullah, dia melihat ibunya membelanya. Kemudian dia memberikan keterangan kepada ibunya tentang thawaf di sekitar Ka’bah, dan bagaimanakah haji sebagai sebuah lambang persamaan antar sesama manusia sebagaimana Tuhan telah menciptakan mereka tanpa memandang perbedaan warna kulit, bangsa, kaya, atau miskin.
Kemudian Muhammad meneruskan, ”Sesungguhnya aku berusaha mengumpulkan sisa dari uang sakuku setiap minggunya agar aku bisa pergi ke Makkah Al-Mukarramah pada suatu hari. Aku telah mendengar bahwa perjalanan ke sana membutuhkan biaya 4 ribu dollar, dan sekarang aku mempunyai 300 dollar."
Ibunya menimpalinya seraya berkata untuk berusaha menghilangkan kesan keteledorannya, ”Aku sama sekali tidak keberatan dan menghalanginya pergi ke Makkah, akan tetapi kami tidak memiliki cukup uang untuk mengirimnya dalam waktu dekat ini."
”Apakah cita-citamu yang lain ?” tanya wartawan.
“Aku bercita-cita agar Palestina kembali ke tangan kaum muslimin. Ini adalah bumi mereka yang dicuri oleh orang-orang Israel (Yahudi) dari mereka.” jawab Muhammad
Ibunya melihat kepadanya dengan penuh keheranan. Maka diapun memberikan isyarat bahwa sebelumnya telah terjadi perdebatan antara dia dengan ibunya sekitar tema ini.
Muhammad berkata, ”Ibu, engkau belum membaca sejarah, bacalah sejarah, sungguh benar-benar telah terjadi perampasan terhadap Palestina."
”Apakah engkau mempunyai cita-cita lain ?” tanya wartawan lagi.
Muhammad menjawab, “Cita-citaku adalah aku ingin belajar bahasa Arab, dan menghafal Al Quran.”
“Apakah engkau berkeinginan belajar di negeri Islam ?” tanya wartawan
Maka dia menjawab dengan meyakinkan : “Tentu"
”Apakah engkau mendapati kesulitan dalam masalah makanan ? Bagaimana engkau menghindari daging babi ?”
Muhammad menjawab, ”Babi adalah hewan yang sangat kotor dan menjijikkan. Aku sangat heran, bagaimanakah mereka memakan dagingnya. Keluargaku mengetahui bahwa aku tidak memakan daging babi, oleh karena itu mereka tidak menghidangkannya untukku. Dan jika kami pergi ke restoran, maka aku kabarkan kepada mereka bahwa aku tidak memakan daging babi."
”Apakah engkau sholat di sekolahan ?”
”Ya, aku telah membuat sebuah tempat rahasia di perpustakaan yang aku shalat di sana setiap hari” jawab Muhammad
Kemudian datanglah waktu shalat maghrib di tengah wawancara. Bocah itu langsung berkata kepada wartawan,”Apakah engkau mengijinkanku untuk mengumandangkan adzan ?”
Kemudian dia berdiri dan mengumandangkan adzan. Dan tanpa terasa, air mata mengalir di kedua mata sang wartawan ketika melihat dan mendengarkan bocah itu menyuarakan adzan.(Syhdt/sbl)
Matisuri
Setelah sekian lama, hampir 2 tahun, saya kehilangan username dan pasword untuk mengelola blog ini, alhamdulillah lagi utak-atik hardisk lama, eeh ketemu, ya udah hidup lagi nih blog, ada beberapa artikel lawas yang baru bisa tayang sekarang. Ya udeh selamat hidup kembali...
Monday, February 26, 2007
"Wish Kid"
Anak Harapan
oleh Rojali S.kom
Dated 26-02-2007
"Berikanlah Anak-anakmu pendidikan Agama yang kuat, karena Ia hidup pada zaman yang berbeda dengan zaman mu"
(Ali Ra)
"Anak adalah ibarat busur panah yang engkau lepaskan tanpa bisa engkau tarik kembali, engkau dapat menguasai badannya, tetapi engkau tidak akan bisa menguasai jiwanya" (Kahlil Gibran)
Anak adalah harapan orangtua, permata hati, penyejuk pandangan dan buahcinta orang tua. puncak kebahagiaan yang dimiliki pasangan yang baru menikah adalah dengan hadirnya sang buah hati. Penderitaan Ibu yang mengandungnya selama sembilan bulan sepuluh hari seolah lepas setelah melihat sang jabang bayi lahir dengan selamat. Tak sedikit orang tua yang menangis bahagia ketika putra pertama mereka lahir. Bagi pasangan yang lama tidak dikarunia anak, menanti datangnya seorang anak seperti menanti datangnya pembesar kerajaan. Seperti yang pernah dilakukan oleh mantan ketua MPR Amin Rais yang belum dikaruniai anak sampai sebelas tahun perkawinannya. Beliau menyambut sang jabang bayi dengan penghormatan besar seolah-olah menerima tamu agung.
Ketika anak lahir, orangtua lantas berharap kepada anak dengan segudang harapan, agar ia bisa berbakti kepada orangtua, bangsa dan negara.
Keinginan besar orangtua agar anak-anaknya menjadi ideal sesuai dengan keinginannya lantas menjadikan sang anak adalah model dari orangtua itu sendiri. Orangtua menginginkan agar anak cerdas, pintar, rajin, soleh, taat kepada orangtua dan sebagainya. Orangtua kadang menginginkan agar sang anak lebih hebat dari dirinya, dan bercerita kepada sang bocah kecil dengan sedikit dusta bahwa bapaknya dahulu adalah sang juara kelas dan ibunya juara umum, maka kamu harus lebih hebat dari bapak dan ibumu. Namun apa lacur, seiring berjalannya waktu, sang anak semakin dewasa, harapan demi harapan pupus ditengah jalan. sang anak tidak sesuai dengan mimpi dan harapan orangtuanya bahkan yang lebih buruk adlah sang anak menjadi pecandu narkoba. Yaa Tuhan apanya yang salah...
Sebagian dari kita para orangtua kadang tidak menyadari bahwa ada "durhaka orang tua terhadap anak" bukan hanya anak yang durhaka kepada orang tua. Ketika kita lebih suka memberi nama anak dengan nama modern dan keren, meskipun mempunyai arti yang buruk daripada memberi nama anak kita dengan "Abdullah" atau "Abdull Rohman" yang kesannya kampungan adalah salah satu durhaka anak kepada orang tua. Memang apalah arti sebuah nama seperti kata pujangga terkenal Shakespeare, tetapi dalam Islam nama adalah sebuah do'a yg mempunyai arti yang kuat bagi perkembangan jiwanya. Nabi pernah mengganti nama seorang suku badui yang bernama "Harb" yg berarti perang dengan "Salim" yang artinya damai.
Begitu juga ketika kita memberi nafkah anak dari sumber yang subhat, apalagi haram. Kita biarkan mereka menelan dan mengunyah makanan haram dan membiarkan makanan itu mengaliri darah mereka, adalah bentuk durhaka anak kepada orangtua. Bagaimana mungkin kita bisa berharap anak-anak menjadi soleh, sedangkan bapak dan ibunya adalah pencuri.
Durhaka yang paling besar adalah membiarkan anak tanpa pendidikan agama yang cukup, sehingga ia lepas dari busurnya tanpa bekal iman yang kuat.
"Anak-anak lahir dalam keadaan fitrah, orangtuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi" (HR Bukhari/Muslim. )
Ketika iman yang menjadi pegangan sang bocah dikala Ia bimbang, dikala Ia ragu dalam mencari jatidirinya, ternyata rapuh akibat kelalaian orangtua, maka tidak ada gunanya lagi orang tua berharap kepada sang anak, agar menjadi anak yang soleh dan berguna. Apalagi ketika sang anak jatuh terjerembab kedalam jurang narkoba yang berujung kepada kematiannya. Tiadalah yang dapat dilakukan, selain penyesalan yang dalam akan dosa yang dilakukan. Belum lagi nanti di yaumil mahsyar, sang anak akan menuntut orang tua karena tidak pernah diajarkan tentang ilmu agama.
Anak tiada beda dengan orang dewasa. Mereka hanya belakangan hadir, dan kita yg lebih dahulu mendapat kesempatan hidup. Perbedaan kita dan mereka hanyalah masalah waktu. Semua akan sama ketika berjumpa dengan Allah. Jadi ketika anak kita tidak pandai, bukan berarti mereka bodoh, mereka hanya belum mencapai kesempatannya. Ketika anak tidak berhasil, bukan berarti gagal, mereka hanya belum sampai kepada keberhasilannya. Ketika anak kita nakal bukan berarti ia anak durhaka, bisa jadi kita yang durhaka kepada mereka karena kelalaian kita. Wallahu 'Alam bisshowab"
oleh Rojali S.kom
Dated 26-02-2007
"Berikanlah Anak-anakmu pendidikan Agama yang kuat, karena Ia hidup pada zaman yang berbeda dengan zaman mu"
(Ali Ra)
"Anak adalah ibarat busur panah yang engkau lepaskan tanpa bisa engkau tarik kembali, engkau dapat menguasai badannya, tetapi engkau tidak akan bisa menguasai jiwanya" (Kahlil Gibran)
Anak adalah harapan orangtua, permata hati, penyejuk pandangan dan buahcinta orang tua. puncak kebahagiaan yang dimiliki pasangan yang baru menikah adalah dengan hadirnya sang buah hati. Penderitaan Ibu yang mengandungnya selama sembilan bulan sepuluh hari seolah lepas setelah melihat sang jabang bayi lahir dengan selamat. Tak sedikit orang tua yang menangis bahagia ketika putra pertama mereka lahir. Bagi pasangan yang lama tidak dikarunia anak, menanti datangnya seorang anak seperti menanti datangnya pembesar kerajaan. Seperti yang pernah dilakukan oleh mantan ketua MPR Amin Rais yang belum dikaruniai anak sampai sebelas tahun perkawinannya. Beliau menyambut sang jabang bayi dengan penghormatan besar seolah-olah menerima tamu agung.
Ketika anak lahir, orangtua lantas berharap kepada anak dengan segudang harapan, agar ia bisa berbakti kepada orangtua, bangsa dan negara.
Keinginan besar orangtua agar anak-anaknya menjadi ideal sesuai dengan keinginannya lantas menjadikan sang anak adalah model dari orangtua itu sendiri. Orangtua menginginkan agar anak cerdas, pintar, rajin, soleh, taat kepada orangtua dan sebagainya. Orangtua kadang menginginkan agar sang anak lebih hebat dari dirinya, dan bercerita kepada sang bocah kecil dengan sedikit dusta bahwa bapaknya dahulu adalah sang juara kelas dan ibunya juara umum, maka kamu harus lebih hebat dari bapak dan ibumu. Namun apa lacur, seiring berjalannya waktu, sang anak semakin dewasa, harapan demi harapan pupus ditengah jalan. sang anak tidak sesuai dengan mimpi dan harapan orangtuanya bahkan yang lebih buruk adlah sang anak menjadi pecandu narkoba. Yaa Tuhan apanya yang salah...
Sebagian dari kita para orangtua kadang tidak menyadari bahwa ada "durhaka orang tua terhadap anak" bukan hanya anak yang durhaka kepada orang tua. Ketika kita lebih suka memberi nama anak dengan nama modern dan keren, meskipun mempunyai arti yang buruk daripada memberi nama anak kita dengan "Abdullah" atau "Abdull Rohman" yang kesannya kampungan adalah salah satu durhaka anak kepada orang tua. Memang apalah arti sebuah nama seperti kata pujangga terkenal Shakespeare, tetapi dalam Islam nama adalah sebuah do'a yg mempunyai arti yang kuat bagi perkembangan jiwanya. Nabi pernah mengganti nama seorang suku badui yang bernama "Harb" yg berarti perang dengan "Salim" yang artinya damai.
Begitu juga ketika kita memberi nafkah anak dari sumber yang subhat, apalagi haram. Kita biarkan mereka menelan dan mengunyah makanan haram dan membiarkan makanan itu mengaliri darah mereka, adalah bentuk durhaka anak kepada orangtua. Bagaimana mungkin kita bisa berharap anak-anak menjadi soleh, sedangkan bapak dan ibunya adalah pencuri.
Durhaka yang paling besar adalah membiarkan anak tanpa pendidikan agama yang cukup, sehingga ia lepas dari busurnya tanpa bekal iman yang kuat.
"Anak-anak lahir dalam keadaan fitrah, orangtuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi" (HR Bukhari/Muslim. )
Ketika iman yang menjadi pegangan sang bocah dikala Ia bimbang, dikala Ia ragu dalam mencari jatidirinya, ternyata rapuh akibat kelalaian orangtua, maka tidak ada gunanya lagi orang tua berharap kepada sang anak, agar menjadi anak yang soleh dan berguna. Apalagi ketika sang anak jatuh terjerembab kedalam jurang narkoba yang berujung kepada kematiannya. Tiadalah yang dapat dilakukan, selain penyesalan yang dalam akan dosa yang dilakukan. Belum lagi nanti di yaumil mahsyar, sang anak akan menuntut orang tua karena tidak pernah diajarkan tentang ilmu agama.
Anak tiada beda dengan orang dewasa. Mereka hanya belakangan hadir, dan kita yg lebih dahulu mendapat kesempatan hidup. Perbedaan kita dan mereka hanyalah masalah waktu. Semua akan sama ketika berjumpa dengan Allah. Jadi ketika anak kita tidak pandai, bukan berarti mereka bodoh, mereka hanya belum mencapai kesempatannya. Ketika anak tidak berhasil, bukan berarti gagal, mereka hanya belum sampai kepada keberhasilannya. Ketika anak kita nakal bukan berarti ia anak durhaka, bisa jadi kita yang durhaka kepada mereka karena kelalaian kita. Wallahu 'Alam bisshowab"
Tuesday, February 20, 2007
Selamat Datang di Taman Kami
Assalamualaikum wr.wb.
Setelah menunggu hampir 5 tahun, disela-sela kesibukan dan rutinitas, alhamdulillah kembali kami muncul didunia maya.
Sejak lama kami dari pengurus TK Asy-Syifaa ingin membuat blog tentang asy-syifaa, yang mungkin akan menjadi sarana bagi para civitas yang terlibat didalamnya untuk saling berbagi dan mengisi. Juga untuk para orangtua/wali yang menginginkan informasi tentang kami, juga sarannya.
Sedikit saja sekapur sirih kami. Insya allah kita lanjutkan dalam topik-topik lainnya
Wassalamu'alaikum wr.wb.
Rojali. S,kom
Ketua
Setelah menunggu hampir 5 tahun, disela-sela kesibukan dan rutinitas, alhamdulillah kembali kami muncul didunia maya.
Sejak lama kami dari pengurus TK Asy-Syifaa ingin membuat blog tentang asy-syifaa, yang mungkin akan menjadi sarana bagi para civitas yang terlibat didalamnya untuk saling berbagi dan mengisi. Juga untuk para orangtua/wali yang menginginkan informasi tentang kami, juga sarannya.
Sedikit saja sekapur sirih kami. Insya allah kita lanjutkan dalam topik-topik lainnya
Wassalamu'alaikum wr.wb.
Rojali. S,kom
Ketua
Subscribe to:
Posts (Atom)
