Anak Harapan
oleh Rojali S.kom
Dated 26-02-2007
"Berikanlah Anak-anakmu pendidikan Agama yang kuat, karena Ia hidup pada zaman yang berbeda dengan zaman mu"
(Ali Ra)
"Anak adalah ibarat busur panah yang engkau lepaskan tanpa bisa engkau tarik kembali, engkau dapat menguasai badannya, tetapi engkau tidak akan bisa menguasai jiwanya" (Kahlil Gibran)
Anak adalah harapan orangtua, permata hati, penyejuk pandangan dan buahcinta orang tua. puncak kebahagiaan yang dimiliki pasangan yang baru menikah adalah dengan hadirnya sang buah hati. Penderitaan Ibu yang mengandungnya selama sembilan bulan sepuluh hari seolah lepas setelah melihat sang jabang bayi lahir dengan selamat. Tak sedikit orang tua yang menangis bahagia ketika putra pertama mereka lahir. Bagi pasangan yang lama tidak dikarunia anak, menanti datangnya seorang anak seperti menanti datangnya pembesar kerajaan. Seperti yang pernah dilakukan oleh mantan ketua MPR Amin Rais yang belum dikaruniai anak sampai sebelas tahun perkawinannya. Beliau menyambut sang jabang bayi dengan penghormatan besar seolah-olah menerima tamu agung.
Ketika anak lahir, orangtua lantas berharap kepada anak dengan segudang harapan, agar ia bisa berbakti kepada orangtua, bangsa dan negara.
Keinginan besar orangtua agar anak-anaknya menjadi ideal sesuai dengan keinginannya lantas menjadikan sang anak adalah model dari orangtua itu sendiri. Orangtua menginginkan agar anak cerdas, pintar, rajin, soleh, taat kepada orangtua dan sebagainya. Orangtua kadang menginginkan agar sang anak lebih hebat dari dirinya, dan bercerita kepada sang bocah kecil dengan sedikit dusta bahwa bapaknya dahulu adalah sang juara kelas dan ibunya juara umum, maka kamu harus lebih hebat dari bapak dan ibumu. Namun apa lacur, seiring berjalannya waktu, sang anak semakin dewasa, harapan demi harapan pupus ditengah jalan. sang anak tidak sesuai dengan mimpi dan harapan orangtuanya bahkan yang lebih buruk adlah sang anak menjadi pecandu narkoba. Yaa Tuhan apanya yang salah...
Sebagian dari kita para orangtua kadang tidak menyadari bahwa ada "durhaka orang tua terhadap anak" bukan hanya anak yang durhaka kepada orang tua. Ketika kita lebih suka memberi nama anak dengan nama modern dan keren, meskipun mempunyai arti yang buruk daripada memberi nama anak kita dengan "Abdullah" atau "Abdull Rohman" yang kesannya kampungan adalah salah satu durhaka anak kepada orang tua. Memang apalah arti sebuah nama seperti kata pujangga terkenal Shakespeare, tetapi dalam Islam nama adalah sebuah do'a yg mempunyai arti yang kuat bagi perkembangan jiwanya. Nabi pernah mengganti nama seorang suku badui yang bernama "Harb" yg berarti perang dengan "Salim" yang artinya damai.
Begitu juga ketika kita memberi nafkah anak dari sumber yang subhat, apalagi haram. Kita biarkan mereka menelan dan mengunyah makanan haram dan membiarkan makanan itu mengaliri darah mereka, adalah bentuk durhaka anak kepada orangtua. Bagaimana mungkin kita bisa berharap anak-anak menjadi soleh, sedangkan bapak dan ibunya adalah pencuri.
Durhaka yang paling besar adalah membiarkan anak tanpa pendidikan agama yang cukup, sehingga ia lepas dari busurnya tanpa bekal iman yang kuat.
"Anak-anak lahir dalam keadaan fitrah, orangtuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi" (HR Bukhari/Muslim. )
Ketika iman yang menjadi pegangan sang bocah dikala Ia bimbang, dikala Ia ragu dalam mencari jatidirinya, ternyata rapuh akibat kelalaian orangtua, maka tidak ada gunanya lagi orang tua berharap kepada sang anak, agar menjadi anak yang soleh dan berguna. Apalagi ketika sang anak jatuh terjerembab kedalam jurang narkoba yang berujung kepada kematiannya. Tiadalah yang dapat dilakukan, selain penyesalan yang dalam akan dosa yang dilakukan. Belum lagi nanti di yaumil mahsyar, sang anak akan menuntut orang tua karena tidak pernah diajarkan tentang ilmu agama.
Anak tiada beda dengan orang dewasa. Mereka hanya belakangan hadir, dan kita yg lebih dahulu mendapat kesempatan hidup. Perbedaan kita dan mereka hanyalah masalah waktu. Semua akan sama ketika berjumpa dengan Allah. Jadi ketika anak kita tidak pandai, bukan berarti mereka bodoh, mereka hanya belum mencapai kesempatannya. Ketika anak tidak berhasil, bukan berarti gagal, mereka hanya belum sampai kepada keberhasilannya. Ketika anak kita nakal bukan berarti ia anak durhaka, bisa jadi kita yang durhaka kepada mereka karena kelalaian kita. Wallahu 'Alam bisshowab"
Monday, February 26, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment